Pulang ke Aroma Kayu Manis
Rasa yang Tak Bisa Bohong
Kedai sedang sepi saat Riris masuk sendirian. Wajahnya kusut, tanpa riasan. Ia langsung duduk di kursi bar (stool), tepat di hadapan Fajar yang sedang mengelap gelas. Jarak mereka hanya terpisah meja kayu selebar setengah meter.
"Satu coklat panas kayak kemarin ya, Mas. Yang pakai madu," pinta Riris sambil meletakkan dagunya di atas lipatan tangan. Matanya terpejam.
Fajar menatapnya dalam diam. Ia ingin sekali bertanya, 'Kamu kenapa?' atau 'Apa pria itu menyakitimu?'. Tapi ia sadar posisinya. Ia hanya penonton di hidup Riris sekarang.
"Siap, Mbak," jawab Fajar singkat.
Sambil meracik, Fajar memberanikan diri. "Kelihatannya lagi penat, Mbak?"
Riris membuka mata, menghela napas panjang. "Persiapan tunangan ternyata bikin pusing ya, Mas."
Fajar merasakan nyeri itu lagi. "Oh... Mas Dimas yang kemarin itu ya? Kelihatannya orangnya mapan."
Riris tertawa kecil, tawa yang terdengar kosong. "Iya. Mapan, baik... sempurna mungkin. Orang tua saya bilang dia itu 'pelabuhan aman'. Katanya, setelah kecelakaan dua tahun lalu, saya nggak boleh ambil risiko lagi. Hidup saya harus lurus, stabil, tanpa kejutan."
Tangan Fajar berhenti mengaduk sesaat. Kecelakaan itu.
"Tapi..." Riris menatap uap coklat panasnya. "Rasanya kosong, Mas. Aman, tapi sepi. Tiap sama dia, saya kayak lagi nonton film orang lain. Apa cinta emang gitu ya? Cuma soal cari yang aman?"
Fajar menelan ludah. Ia tahu jawabannya. Ia tahu bagaimana Riris dulu tertawa lepas saat mereka terjebak hujan di pinggir jalan, makan mie rebus berdua dengan pakaian basah kuyup. Itu tidak aman, tidak nyaman, tapi penuh kehidupan.
"Mungkin..." Fajar menjawab hati-hati, menahan gejolak di dadanya. "Mungkin hati Mbak masih mencari sesuatu yang belum ketemu."
Riris menatap Fajar, matanya menyipit, seolah mencoba menembus kabut di ingatannya. "Mas Barista ngomongnya kayak pujangga."
Tiba-tiba, dari jalanan di luar, terdengar suara motor tua melintas.
Treng-teng-teng-teng…
Suara knalpot Vespa 2-tak yang nyaring dan kasar.
Tubuh Riris menegang seketika. Wajahnya memucat drastis. Cangkir di tangannya bergetar hebat hingga isinya tumpah sedikit. Napasnya memburu, matanya menatap kosong ke arah jalanan dengan ngeri.
"Suara itu..." desis Riris, memegang kepalanya yang tiba-tiba berdenyut. "Sakit..."
Fajar tidak berpikir dua kali. Ia melupakan perannya. Ia melupakan batasannya.
Ia melompati bar kecil itu dan berdiri di samping Riris.
Tanpa kata, Fajar meraih tangan Riris yang dingin. Jari-jarinya bergerak otomatis, bukan sekadar menggenggam, tapi mengetuk punggung tangan Riris dengan irama spesifik. Tap. Tap-tap. Tap. Sebuah kode Morse bisu yang dulu selalu ia gunakan untuk bilang 'aku di sini'.
"Tarik napas, Ris. Lihat saya," suara Fajar berubah. Bukan nada sopan barista ke pelanggan. Itu nada perintah yang lembut, nada seseorang yang pernah menjadi jangkar. "Cuma suara motor. Kamu di sini. Aman. Cium bau coklatnya. Fokus ke kayu manisnya."
Riris menatap mata Fajar. Napasnya yang tersengal perlahan melambat mengikuti irama tepukan di tangannya.
Matanya terkunci pada wajah Fajar. Pada matanya yang teduh. Dan pada tangannya yang terasa begitu pas menggenggam jemarinya. Rasa sakit di kepalanya surut, digantikan oleh pertanyaan besar yang meledak di benaknya.
"Mas..." Riris menarik tangannya perlahan, menatap Fajar dengan tatapan tajam dan penuh curiga.
"Kenapa Mas tahu cara nenangin saya kayak gini? Irama tepukan ini..." Riris menelan ludah. "Dan kenapa rasanya saya kenal tangan ini?"
Fajar tersentak sadar. Ia mundur selangkah, wajahnya pias. Ia baru saja membuka celah rahasia yang ia jaga mati-matian.
"Saya... saya pernah ikut pelatihan P3K, Mbak," elak Fajar terbata, matanya liar menghindari tatapan Riris. "Itu... cuma teknik grounding umum. Biar Mbak nggak syok."
Riris tidak menjawab. Tatapannya menelanjangi Fajar, mencari kebenaran di balik seragam apron coklat itu. Di luar, hujan mulai turun lagi, menyamarkan suara detak jantung dua orang yang terikat masa lalu yang satu pihak coba lupakan, dan pihak lain coba kubur dalam-dalam.
Komentar
Posting Komentar