Pulang ke Aroma Kayu Manis
Aroma Hujan dan Tamu Tak Diundang
Hujan bulan Februari selalu punya cara sendiri untuk memanggil kenangan. Di balik meja bar Kedai Senja, Fajar sibuk mengelap portafilter mesin kopi, meski matanya sesekali melirik ke arah pintu kaca yang berembun.
Sudah pukul lima sore. Waktunya dia datang.
Wanita itu. Pelanggan di meja nomor tiga yang selalu memesan menu yang sama, di jam yang sama, dengan tatapan mata yang selalu tampak mencari sesuatu yang hilang. Fajar mengenalnya. Sangat mengenalnya. Meski wanita itu menatap Fajar tak lebih dari sekadar orang asing yang menyajikan minuman.
Fajar menarik lengan kemejanya sedikit ke bawah, memastikan luka parut panjang di lengan kirinya tertutup sempurna. Luka lama. Saksi bisu dari sebuah malam yang ingin ia lupakan, namun tak pernah bisa.
Kring.
Lonceng pintu berdenting. Jantung Fajar berdesir, sebuah refleks tubuh yang anehnya tak pernah hilang meski sudah dua tahun berlalu. Ia mendongak, siap menyapa.
"Selamat so.."
Kalimat Fajar tercekat.
Riris memang datang. Tapi kali ini, ia tidak sendiri.
Seorang pria berdiri di sampingnya. Tinggi, tegap, mengenakan kemeja slim-fit licin dan jam tangan mahal yang berkilau. Pria itu memegang payung hitam besar, memiringkannya dominan ke arah Riris. Memastikan tak setetes air pun menyentuh gaun Riris, meski bahu pria itu sendiri basah kuyup. Sebuah proteksi sempurna yang tak pernah bisa Fajar berikan dulu.
Pria itu tersenyum pada Riris. Senyum kemenangan. Senyum seseorang yang memiliki masa depan.
"Ayo masuk, Ris. Hati-hati licin," ucap pria itu lembut, tangannya sigap menahan punggung Riris.
Riris tersenyum. Senyum yang sopan. "Makasih, Mas Dimas."
Mereka berjalan menuju meja nomor tiga. Fajar merasa oksigen di ruangan itu menipis. Ia melihat bagaimana Riris duduk, bagaimana ia menyelipkan rambut ke belakang telinga, kebiasaan kecil yang Fajar hafal di luar kepala. Namun kini, pemandangan itu terasa begitu jauh. Terhalang oleh tembok tak kasat mata dan kehadiran pria bernama Dimas itu.
Dimas berjalan menuju meja kasir. Aroma parfum maskulin yang tajam menguar, menabrak aroma kopi yang hangat.
"Sore, Mas," sapa Dimas ramah. "Saya pesan Americano satu. Dan untuk wanita di sana..." Dimas menoleh ke arah Riris dengan tatapan memuja. "Dia suka coklat panas, kan? Tolong yang paling enak ya. 'Calon istri saya sedang butuh yang manis-manis.'
Calon istri.
Dua kata itu menghantam Fajar, rasanya sama seperti benturan aspal yang meremukkan tulang dua tahun lalu. Bedanya, kali ini tak ada darah yang keluar, hanya nyeri tak kasat mata yang menjalar hebat.
Tangan Fajar yang sedang memegang struk gemetar. Milk jug logam di samping mesin espresso tersenggol sikunya, jatuh berdentang keras ke lantai.
PRANG!
Suara gaduh itu membuat seisi kedai menoleh, termasuk Riris. Tatapan mereka bertemu sesaat. Ada kilat bingung di mata Riris melihat reaksi berlebihan sang barista.
"Mas? Nggak apa-apa?" tanya Dimas, kaget.
Fajar buru-buru menunduk, memungut milk jug itu dengan tangan gemetar, menyembunyikan wajahnya yang mendadak pucat pasi. "Maaf... maaf. Tangan saya licin."
Ia membalikkan badan, berpura-pura sibuk dengan mesin kopi. Nafasnya menderu. Calon istri. Jadi inikah akhirnya? Setelah dua tahun ia hanya diam dan melihat dari jauh?
Dengan gerakan kaku, Fajar meracik pesanan itu. Untuk coklat panasnya, tangannya bergerak otomatis tanpa perlu berpikir. Suhu 65 derajat. Sedikit kayu manis. Tanpa gula pasir, ganti dengan sedikit madu. Fajar tahu persis racikan ini tidak ada di buku menu. Ini racikan khusus. Racikan memori.
Saat Fajar mengantarkan pesanan itu ke meja, ia melihat tangan Dimas menggenggam tangan Riris.
"Silakan," suara Fajar parau, meletakkan cangkir itu.
Riris menyesapnya sedikit, lalu matanya membola. Ia mendongak menatap Fajar, heran. "Mas... ini pakai madu ya? Bukan gula?"
Fajar tercekat. Ia lupa. Itu detail yang terlalu intim untuk diketahui seorang barista biasa.
"Eh... iya, Mbak. Madu hutan lagi musim. Bonus dari kedai," dalih Fajar cepat, jantungnya memacu adrenalin. "Katanya lebih aman buat lambung."
Riris terdiam, menatap cangkir itu lama. "Aneh... rasanya familiar sekali. Seperti rasa yang sering saya rindukan, tapi saya lupa pernah minum di mana."
Fajar hanya tersenyum tipis, pahit. "Mungkin cuma perasaan Mbak saja."
Ia segera berbalik sebelum pertahanannya runtuh.
Komentar
Posting Komentar