Jejak Prosa : Arsip Rekaman Proyek "Logika Mistis"

Arsip Logika Mistis

ARSIP REKAMAN: PROYEK "LOGIKA MISTIS"

(VIDEO DIMULAI)
(Visual: Kamera handheld sedikit bergoyang, grainy (berbintik) khas rekaman tahun 90-an. Cahaya minim, hanya dari lampu petromaks yang mendesis di tengah ruangan kayu. Mbah Karto duduk bersila, melinting rokok klobot. Asap tebal mengepul.)

RIKO (VO)
"Oke, rekaman berjalan. Mbah Karto, terima kasih sudah menerima saya. Langsung saja ya, Mbah. Saya sudah riset koran lama tahun 70-an. Kasus Sri Ningsih ini tercatat sebagai... 'Tragedi Amuk Massa akibat Aib Asusila'. Intinya, dia hamil di luar nikah, warga marah, lalu dia tewas. Kenapa Mbah bilang catatan polisi itu salah?"
MBAH KARTO

(Menyalakan rokoknya, matanya tajam menatap lensa kamera seolah menembus jiwa Riko)

"Hamil? Cuih."

(Mbah Karto meludah ke lantai tanah)

"Sri Ningsih itu kembang desa Wuluh Ireng, Nak. Suaranya merdu, lakunya santun. Dia itu rebutan para bujang. Apa masuk akal wanita seperti itu hamil tanpa suami? Itu bukan bayi, Nak Riko. Itu penyakit kiriman."
RIKO
"Kiriman? Maksud Mbah... santet?"

(Nada Riko terdengar skeptis, sedikit meremehkan)

"Mbah, secara medis, pembengkakan perut bisa karena tumor atau busung lapar. Jangan semua dikaitkan dengan mistis."
MBAH KARTO

(Terkekeh sinis, suara tawanya kering)

"Busung lapar kok bunyinya kretek-kretek? Busung lapar kok perutnya panas kayak setrika?"

(Kamera zoom in sedikit ke wajah Mbah Karto.)

"Saya yang ngangkat jenazahnya Sri waktu ditemukan di hutan, Nak. Perutnya itu... besar, hitam legam, dan kulitnya tipis sampai transparan. Di dalamnya kelihatan ada yang gerak-gerak. Bukan nendang kayak bayi... tapi nusuk. Isinya paku berkarat, ijuk sapu, sama pecahan kaca. Itu ulah Ratmi."
RIKO
"Ratmi? Anak juragan tanah yang jadi saingan Sri?"
MBAH KARTO
"Iya. Ratmi dengki. Dia kalah ayu, kalah suara. Dia bayar dukun hitam dari pesisir selatan. Dia minta perut Sri dibikin buncit, biar Sri dituduh zinah. Biar Sri hina di mata warga."
RIKO
"Dan rencananya berhasil. Sri diusir warga."
MBAH KARTO
"Lebih parah dari diusir. Malam Jumat Kliwon, hujan deras kayak sekarang... Warga nyeret Sri keluar rumah. Sri nangis darah, dia sumpah kalau dia masih perawan. Dia bilang, 'Sakit, Pak... perutku sakit, isinya paku...' Tapi warga ndak peduli. Mereka melemparinya batu."

(Suara angin menderu kencang di luar gubuk, membuat pintu bergetar. Riko menoleh sebentar ke arah pintu.)

RIKO
"Lalu... soal pembunuhan itu?"
MBAH KARTO
"Ratmi ndak puas cuma bikin Sri diusir. Dia nyuruh tiga preman bayaran buat ngabisi Sri di hutan. Tiga bajingan itu... mereka memperkosa Sri yang sedang sekarat karena santet. Lalu mereka gantung mayatnya di pohon Asem. Lidahnya dipotong biar ndak bisa ngadu, kakinya dipatahkan biar pas masuk liang lahat."
RIKO
"Sadis. Benar-benar biadab. Ratmi dan preman-preman itu kriminal murni."
MBAH KARTO
"Kriminal? Bukan, Nak. Mereka itu tumbal."

(Mbah Karto mematikan rokoknya dengan kasar)

"Seminggu setelah Sri mati... Ratmi mati. Sampeyan harusnya lihat matinya Ratmi."
RIKO
"Kenapa dengan Ratmi?"
MBAH KARTO
"Dia lagi pesta syukuran kematian Sri. Tiba-tiba Ratmi jerit-jerit. Dia muntah darah, tapi darahnya campur kelabang hidup. Terus perutnya Ratmi... blarr... meletus di depan tamu undangan."
RIKO

(Wajah Riko memucat)

"Meletus? Mbah, tolong jangan melebih-lebihkan."
MBAH KARTO
"Meletus, Nak. Ususnya berhamburan keluar. Dan di antara usus-usus itu... ada rambut panjang hitam yang melilit. Rambutnya Sri. Sri tumbuh di dalam perut Ratmi buat ngambil nyawanya."

(Tiba-tiba, Audio merekam suara aneh. Krrrkk... srrreett... Suara seperti benda tajam menggesek dinding kayu.)

RIKO

(Melihat sekeliling)

"Suara apa itu? Tikus?"
MBAH KARTO

(Terdiam. Matanya melotot menatap ke pojok ruangan yang gelap, di atas lemari jati tua.)

"Bukan tikus. Dia datang. Dia nyium bau orang asing yang ndak percaya sama sakitnya dia."
RIKO
"Mbah, jangan nakut-nakutin. Kameramen, cek audio. Ada gangguan frekuensi?"

(Audio semakin jelas. Kini terdengar suara wanita merintih, tapi suaranya "basah", seolah mulutnya penuh cairan.)

SUARA MISTERIUS (WHISPER)
"Masss... Wartawaann... Tolong kulo, Mas..." (Mas Wartawan... tolong saya, Mas...)
RIKO

(Tegang)

"Siapa di sana?! Keluar!"
SUARA MISTERIUS
"Perutku abot, Mas... Isine paku... Tolong bedah, Mas..." (Perutku berat, Mas... Isinya paku... Tolong bedah, Mas...)
MBAH KARTO

(Berbisik gemetar)

"Jangan dilihat, Nak Riko! Jangan nengok ke atas!"

(Namun insting jurnalis Riko mengalahkan logikanya. Dia merebut senter dan menyorot ke atas lemari.)

(Visual: Cahaya senter menyapu kegelapan. Di atas lemari, terlihat sosok wanita dengan gaun putih lusuh penuh tanah. Rambutnya panjang menutupi muka. Kakinya menekuk patah ke arah yang salah. Tapi yang paling mengerikan... PERUTNYA.)

(Perut sosok itu besar sekali, kulitnya transparan kebiruan. Di dalam perut itu terlihat paku-paku berkarat bergerak-gerak liar, menonjol-nonjolkan kulit perutnya seolah ingin merobek keluar.)

RIKO
"Astaga Tuhan... Apa itu?!"
HANTU SRI

(Tiba-tiba mengangkat wajah. Lidahnya buntung. Darah hitam mengalir dari mulutnya.)

"AAAAKKHHH!"

(Sosok itu melompat dari atas lemari ke arah kamera. Perut besarnya menghantam lensa.)

RIKO
"LARI! MATIKAN KAMERANYA! LARI!"

(Visual menjadi chaos. Gambar berputar-putar. Terdengar suara meja terguling, suara napas memburu, dan suara Mbah Karto yang merapal mantra Jawa dengan panik.)

(Audio terakhir sebelum rekaman putus adalah suara perut yang robek SROBEKK... diikuti teriakan Riko yang terbungkam.)

(LAYAR HITAM / STATIC NOISE)

UPDATE TERBARU:
Jurnalis Riko ditemukan pingsan dua hari kemudian di dekat makam lama Desa Wuluh Ireng. Dia selamat, namun kini dirawat di RS Jiwa Kadipaten Lawang. Menurut perawat, Riko sering berteriak histeris sambil mencakar-cakar perutnya sendiri, memohon agar "paku-paku" di dalamnya dikeluarkan. Padahal, hasil Rontgen menunjukkan perut Riko bersih.
© 1998 Arsip Logika Mistis. Jangan diputar sendirian di tengah malam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ruang Tanpa Logika : "Bayangan Tanpa Sumber"

Jejak Diri : "Jangan Burnout! 3 Langkah Simpel untuk Bangun Rutinitas Pagi yang Produktif."

Jejak Farmasi : "ADME" Ngulik Obat Skuy!