Jejak Cahaya adalah ruang kolaboratif tempat kata-kata tumbuh, menyinari pemahaman, dan menorehkan makna. Di persimpangan antara sains, filsafat, budaya, dan kehidupan, blog ini merangkai narasi yang lahir dari rasa ingin tahu dan pencarian makna. Setiap tulisan adalah langkah kecil menuju cahaya bagi penulis, dan bagi siapa pun yang membaca.
KASET NO: 04/WI/1998/UNCUTLOKASI: Desa Wuluh Ireng, Kadipaten Lawang, Alas MertaniINTERVIEWER: Riko (Jurnalis Investigasi)NARASUMBER: Mbah Karto, saksi hidup(78 tahun)SUBJEK: Misteri Kuntilanak Perut Buncit (Sri Ningsih)
(VIDEO DIMULAI)
(Visual: Kamera handheld sedikit bergoyang, grainy (berbintik) khas rekaman tahun 90-an. Cahaya minim, hanya dari lampu petromaks yang mendesis di tengah ruangan kayu. Mbah Karto duduk bersila, melinting rokok klobot. Asap tebal mengepul.)
RIKO (VO)
"Oke, rekaman berjalan. Mbah Karto, terima kasih sudah menerima saya. Langsung saja ya, Mbah. Saya sudah riset koran lama tahun 70-an. Kasus Sri Ningsih ini tercatat sebagai... 'Tragedi Amuk Massa akibat Aib Asusila'. Intinya, dia hamil di luar nikah, warga marah, lalu dia tewas. Kenapa Mbah bilang catatan polisi itu salah?"
"Sri Ningsih itu kembang desa Wuluh Ireng, Nak. Suaranya merdu, lakunya santun. Dia itu rebutan para bujang. Apa masuk akal wanita seperti itu hamil tanpa suami? Itu bukan bayi, Nak Riko. Itu penyakit kiriman."
RIKO
"Kiriman? Maksud Mbah... santet?"
(Nada Riko terdengar skeptis, sedikit meremehkan)
"Mbah, secara medis, pembengkakan perut bisa karena tumor atau busung lapar. Jangan semua dikaitkan dengan mistis."
"Saya yang ngangkat jenazahnya Sri waktu ditemukan di hutan, Nak. Perutnya itu... besar, hitam legam, dan kulitnya tipis sampai transparan. Di dalamnya kelihatan ada yang gerak-gerak. Bukan nendang kayak bayi... tapi nusuk. Isinya paku berkarat, ijuk sapu, sama pecahan kaca. Itu ulah Ratmi."
RIKO
"Ratmi? Anak juragan tanah yang jadi saingan Sri?"
MBAH KARTO
"Iya. Ratmi dengki. Dia kalah ayu, kalah suara. Dia bayar dukun hitam dari pesisir selatan. Dia minta perut Sri dibikin buncit, biar Sri dituduh zinah. Biar Sri hina di mata warga."
RIKO
"Dan rencananya berhasil. Sri diusir warga."
MBAH KARTO
"Lebih parah dari diusir. Malam Jumat Kliwon, hujan deras kayak sekarang... Warga nyeret Sri keluar rumah. Sri nangis darah, dia sumpah kalau dia masih perawan. Dia bilang, 'Sakit, Pak... perutku sakit, isinya paku...' Tapi warga ndak peduli. Mereka melemparinya batu."
(Suara angin menderu kencang di luar gubuk, membuat pintu bergetar. Riko menoleh sebentar ke arah pintu.)
RIKO
"Lalu... soal pembunuhan itu?"
MBAH KARTO
"Ratmi ndak puas cuma bikin Sri diusir. Dia nyuruh tiga preman bayaran buat ngabisi Sri di hutan. Tiga bajingan itu... mereka memperkosa Sri yang sedang sekarat karena santet. Lalu mereka gantung mayatnya di pohon Asem. Lidahnya dipotong biar ndak bisa ngadu, kakinya dipatahkan biar pas masuk liang lahat."
RIKO
"Sadis. Benar-benar biadab. Ratmi dan preman-preman itu kriminal murni."
MBAH KARTO
"Kriminal? Bukan, Nak. Mereka itu tumbal."
(Mbah Karto mematikan rokoknya dengan kasar)
"Seminggu setelah Sri mati... Ratmi mati. Sampeyan harusnya lihat matinya Ratmi."
RIKO
"Kenapa dengan Ratmi?"
MBAH KARTO
"Dia lagi pesta syukuran kematian Sri. Tiba-tiba Ratmi jerit-jerit. Dia muntah darah, tapi darahnya campur kelabang hidup. Terus perutnya Ratmi... blarr... meletus di depan tamu undangan."
RIKO
(Wajah Riko memucat)
"Meletus? Mbah, tolong jangan melebih-lebihkan."
MBAH KARTO
"Meletus, Nak. Ususnya berhamburan keluar. Dan di antara usus-usus itu... ada rambut panjang hitam yang melilit. Rambutnya Sri. Sri tumbuh di dalam perut Ratmi buat ngambil nyawanya."
(Tiba-tiba, Audio merekam suara aneh. Krrrkk... srrreett... Suara seperti benda tajam menggesek dinding kayu.)
RIKO
(Melihat sekeliling)
"Suara apa itu? Tikus?"
MBAH KARTO
(Terdiam. Matanya melotot menatap ke pojok ruangan yang gelap, di atas lemari jati tua.)
"Bukan tikus. Dia datang. Dia nyium bau orang asing yang ndak percaya sama sakitnya dia."
RIKO
"Mbah, jangan nakut-nakutin. Kameramen, cek audio. Ada gangguan frekuensi?"
(Audio semakin jelas. Kini terdengar suara wanita merintih, tapi suaranya "basah", seolah mulutnya penuh cairan.)
"Jangan dilihat, Nak Riko! Jangan nengok ke atas!"
(Namun insting jurnalis Riko mengalahkan logikanya. Dia merebut senter dan menyorot ke atas lemari.)
(Visual: Cahaya senter menyapu kegelapan. Di atas lemari, terlihat sosok wanita dengan gaun putih lusuh penuh tanah. Rambutnya panjang menutupi muka. Kakinya menekuk patah ke arah yang salah. Tapi yang paling mengerikan... PERUTNYA.)
(Perut sosok itu besar sekali, kulitnya transparan kebiruan. Di dalam perut itu terlihat paku-paku berkarat bergerak-gerak liar, menonjol-nonjolkan kulit perutnya seolah ingin merobek keluar.)
RIKO
"Astaga Tuhan... Apa itu?!"
HANTU SRI
(Tiba-tiba mengangkat wajah. Lidahnya buntung. Darah hitam mengalir dari mulutnya.)
"AAAAKKHHH!"
(Sosok itu melompat dari atas lemari ke arah kamera. Perut besarnya menghantam lensa.)
RIKO
"LARI! MATIKAN KAMERANYA! LARI!"
(Visual menjadi chaos. Gambar berputar-putar. Terdengar suara meja terguling, suara napas memburu, dan suara Mbah Karto yang merapal mantra Jawa dengan panik.)
(Audio terakhir sebelum rekaman putus adalah suara perut yang robek SROBEKK... diikuti teriakan Riko yang terbungkam.)
(LAYAR HITAM / STATIC NOISE)
UPDATE TERBARU:
Jurnalis Riko ditemukan pingsan dua hari kemudian di dekat makam lama Desa Wuluh Ireng. Dia selamat, namun kini dirawat di RS Jiwa Kadipaten Lawang. Menurut perawat, Riko sering berteriak histeris sambil mencakar-cakar perutnya sendiri, memohon agar "paku-paku" di dalamnya dikeluarkan. Padahal, hasil Rontgen menunjukkan perut Riko bersih.
🌀 Ruang Tanpa Logika #3: Bayangan Tanpa Sumber Oleh: Kak Cahaya dan Pejuang-Mimpi Syahdan Di dunia yang sibuk menghitung likes dan views, ada eksistensi yang tak terdeteksi radar sosial. Episode ketiga ini adalah ruang bagi mereka yang merasa tak dihargai, tak terlihat, tapi tetap bertahan. “Bayangan Tanpa Sumber” bukan sekadar puisi, ia adalah perlawanan lembut terhadap logika pengakuan. Ditulis oleh Pejuang-Mimpi, didukung oleh cahaya, untuk mereka yang tahu bahwa absurditas adalah bentuk tertinggi dari kejujuran. Aku ini bukan pelengkap, bukan juga inti. Hanya sebutir pasir, di tengah lautan pasir yang tak tahu arah angin. Aku bukan debu kosmik, bukan cahaya yang dipantulkan. Aku ini cuma bayangan tanpa sumber, tanpa bentuk, eksistensi yang lewat, dan kadang tersangkut di pikiran orang yang terlalu lelah untuk berpikir. Aku i...
Jangan Burnout! 3 Langkah Simpel untuk Bangun Rutinitas Pagi yang Produktif Jangan Burnout! 3 Langkah Simpel untuk Bangun Rutinitas Pagi yang Produktif Oleh Pejuang-Mimpi dan Kak Alder Noe Hei, sobat semua! Pernah gak sih kamu bangun pagi merasa kok malah capek duluan? Atau buru-buru ngopi sambil scroll medsos yang ujung-ujungnya bikin pikiran mumet? Nah, itu tanda-tanda burnout, lho. Burnout itu kayak alarm tubuh dan pikiran kita bilang, “Bro, kamu butuh recharge!” Makanya, penting banget membangun rutinitas pagi yang produktif supaya harimu bisa lebih berenergi dan fokus. Di artikel ini, gue bakal kasih tiga langkah simpel yang bisa kamu mulai praktikkan dari besok pagi. Gak ribet, tapi dijamin bisa bikin vibe harian kamu berubah positif. Yuk, kita simak! 1. Bangun dengan Slow Wake-Up Routine Jangan langsung melesat dari kasur seperti lagi lomba marathon, ya! Tubuh perlu “pemanasan” dulu. Cobalah untuk bangun secara perlahan: matikan alarm, ...
ADME: Ngulik Obat Skuy! ADME: Ngulik Nasib Obat di Tubuh Oleh Kak Alder Noe dan Pejuang-Mimpi Definisi Obat, Bukan Cuma “Pil” Jadi gini, menurut UU Kesehatan RI, obat itu basically zat atau campuran zat yang lo konsumsi buat nyembuhin, ngejaga, atau mencegah penyakit, sampai ngefek ke fungsi tubuh elo juga. Intinya, anything yang lo minum/oles/semprot/injek ke tubuh supaya lo sehat atau nggak makin parah sakitnya, itu masuk kategori obat. Bentuk-bentuk Obat: Nggak Cuma Tablet Solid (Padat): tablet, kapsul, serbuk. Ini yang paling familiar lah ya. Semi Solid: salep, krim, gel—biasanya buat oles-oles kulit. Liquid (Cair): sirup, tetes, suspensi—ini anak-anak biasanya doyan karena manis. Inhalasi: kayak obat asma, langsung dihirup. Tapi, kali ini kita fokus ke obat oral solid alias tablet sama kapsul, favorit sejuta umat! Fokus: Obat Oral Solid, Starter Pack ADME Kalau lo minum tablet/kapsul, petualangan obat itu...
Komentar
Posting Komentar