LOGIKA MISTIS : #0 Rumah di Ujung Jalan

Rumah di Ujung Jalan

Rumah di Ujung Jalan

Oleh: Riko (Berdasarkan Kisah Nyata?)

"Hantu adalah sesuatu yang tak pernah aku yakini, hingga aku menemukan sebuah rekaman di handphone lama itu. Apakah benar mereka nyata dan bisa menyakiti manusia? Ataukah hanya isapan jempol belaka? Namun yang pasti, setelah menemukan benda itu, ada sesuatu yang berbeda dari sudut pandangku, bahwa yang tak terlihat, belum tentu tidak ada."

Rumah itu berdiri angkuh di ujung jalan setapak yang ditumbuhi ilalang liar, terasing dari denyut nadi kota. Arsitekturnya tua, dengan cat yang mengelupas seperti kulit mati. Jendela-jendelanya tertutup rapat oleh papan kayu yang membusuk, seolah rumah itu adalah monster yang menolak melihat dunia atau mungkin, menolak dunia melihat apa yang ada di dalamnya. Warga desa selalu menunduk saat melewatinya, berbisik tentang bayangan yang bergerak sendiri dan jeritan yang tertelan dinding batu.

Aku, Riko, hanya tertawa mendengar itu semua. Sebagai jurnalis investigasi, "hantu" hanyalah kata lain untuk "ventilasi buruk" atau "tikus di plafon". Aku datang untuk membongkar mitos itu, untuk membuktikan bahwa ketakutan hanyalah permainan pikiran.

Malam itu, badai mengamuk. Hujan menghantam bumi seperti peluru, menyamarkan suara duniaku yang rasional. Pintu depan terkunci rapat, kayunya membengkak karena lembap. Setelah memutari bangunan itu, aku menemukan satu jendela di sisi barat yang engselnya rusak. Dengan sedikit paksaan linggis kecil, aku masuk.

Begitu kakiku menapak lantai kayu, aroma itu menyergapku. Bukan bau debu biasa, melainkan bau manis yang busuk seperti bunga yang diletakkan di atas makam tua. Udaranya berat dan dingin, menusuk hingga ke tulang sumsum, padahal aku memakai jaket tebal.

"Halo?" suaraku menggema, lalu mati, diredam oleh kegelapan yang pekat. Tidak ada jawaban. Hanya suara hujan yang kini terdengar jauh, seolah rumah ini menelan suara dari luar.

Aku menyalakan senter ponselku. Cahayanya yang putih kebiruan menyapu lorong panjang. Dindingnya dipenuhi jamur yang membentuk pola-pola abstrak mengerikan.

Di sebuah meja kecil berdebu di lorong itu, aku melihat sesuatu yang berkilau tertimpa cahaya senter. Sebuah ponsel tua. Layarnya retak, modelnya sudah ketinggalan zaman. Iseng, aku mencoba menyalakannya. Ajaib, baterainya masih tersisa sedikit.

Ada satu file rekaman suara yang terbuka di layar. Aku menekannya. Terdengar suara napas terengah-engah, disusul bisikan panik. "Jangan lihat matanya... jangan lihat bonekanya... mereka hidup...?"

Aku mematikan rekaman itu dengan dengusan remeh. "Trik murahan," gumamku, meletakkan ponsel itu kembali.

Aku melangkah maju menuju ruang tengah. Di sana, tergantung puluhan bingkai foto tua. Aku mendekatkan cahaya ponselku. Napasku tercekat. Itu adalah foto-foto potret keluarga dari berbagai era. Namun, ada satu kesamaan yang membuat perutku mual: mata mereka. Bukan sekadar hitam, tapi dicoret dengan kasar menggunakan tinta tebal, atau mungkin... dibakar.

Dan anehnya, aku merasa tatapan kosong tanpa mata itu sedang mengikutiku.

Duk

.

Suara itu berasal dari lantai atas. Jelas. Berat. Seperti langkah kaki seseorang yang menyeret beban. Kata-kata dari rekaman di ponsel tua tadi terngiang di kepalaku. Mereka hidup!!!

Logikaku berteriak. Itu tikus. Tapi insting purbaku menjerit. Lari!!!

Namun, ego jurnalisku memaksaku naik. Tangga kayu itu melengkung ke atas menuju kegelapan. Di lantai dua, aku menemukan sebuah kamar anak-anak. Ruangan itu penuh sesak dengan boneka porselen. Puluhan, mungkin ratusan.

Senterku menyorot wajah-wajah boneka itu. Mulutku terasa kering. Mata boneka-boneka itu tidak ada. Hanya lubang hitam kosong yang menatap lurus ke arah pintu, ke arahku.

Dan posisi mereka... mereka semua duduk menghadap ke satu kursi kosong di tengah ruangan. Seolah sedang menunggu tamu kehormatan.

"Cukup," bisikku. Keberanianku runtuh. Aku berbalik, hendak lari menuruni tangga.

Namun, pintu kamar itu terbanting menutup tepat di depan hidungku. Aku memutar gagang pintu dengan panik. Terkunci. Aku menendangnya, mendobraknya dengan bahuku, tapi kayu lapuk itu kini terasa sekeras baja. "Tolong!" teriakku, tapi suaraku tidak terdengar seperti milikku lagi. Suaraku kecil, teredam oleh dinding-dinding yang seolah menyempit.

Suhu ruangan turun drastis. Embun beku mulai merayap di kaca jendela. Lalu, suara itu datang. Bukan dari luar, tapi dari belakangku. Dari arah kumpulan boneka itu. Suara gesekan porselen yang beradu. Krrkk... krrkk... Kepala-kepala boneka itu berputar perlahan, menghadap ke arahku. Sebuah bisikan dingin menyapu tengkukku, basah dan dekat sekali. "Selamat datang, Riko. Kursi itu... sudah kami siapkan untukmu." Aku ingin berteriak, tapi tenggorokanku terkunci. Cahaya ponselku berkedip, lalu mati total. Dalam kegelapan mutlak itu, aku merasakan tangan-tangan kecil, dingin, dan kaku mulai merayap naik ke kakiku, menarikku menuju kursi kosong di tengah ruangan itu. Menarikku untuk menjadi bagian dari keluarga abadi mereka.

© 2025 Arsip Misteri Riko. Jangan menoleh ke belakang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ruang Tanpa Logika : "Bayangan Tanpa Sumber"

Jejak Diri : "Jangan Burnout! 3 Langkah Simpel untuk Bangun Rutinitas Pagi yang Produktif."

Jejak Farmasi : "ADME" Ngulik Obat Skuy!