Ruang Tanpa Logika : Kursi Empuk, Hati Beku

Kursi Empuk, Hati Beku

🪑 Kursi Empuk, Hati Beku

Oleh Pejuang-Mimpi dan Kak Cahaya

Refleksi dari Ruang Tanpa Logika

Di negeri ini, empati tak duduk di kursi kekuasaan. Ia berdiri di luar pagar, menunggu dipanggil.

💼 Jabatan yang Terlalu Nyaman

    Kursi empuk itu bukan sekadar furnitur.
    Ia adalah simbol kekuasaan yang lupa rasanya duduk di lantai.
    Pejabat duduk tenang, bicara soal rakyat dari balik mikrofon mahal.

Kenyamanan jabatan sering kali menjadi candu yang mematikan kepekaan. Mereka yang dulu berjanji akan menjadi pelayan rakyat, kini lebih sibuk melayani protokol. Kursi itu bukan sekadar tempat duduk, ia adalah metafora tentang jarak yang semakin melebar antara penguasa dan yang dikuasai. Di balik empuknya sandaran, nurani perlahan kehilangan tempat duduknya.

🧊 Hati yang Tak Lagi Berdenyut

    Ketika rakyat menangis, pejabat sibuk konferensi.
    Ketika rakyat kehilangan rumah, pejabat sibuk meresmikan gedung baru.
    Ketika rakyat minta keadilan, pejabat minta waktu untuk studi banding.

Ada yang membeku di balik jas resmi dan senyum konferensi pers. Bukan karena cuaca, tapi karena terlalu lama tak bersentuhan dengan realitas. Hati yang dulu mungkin pernah bergetar saat melihat ketidakadilan, kini hanya berdetak untuk agenda dan pencitraan. Empati menjadi barang langka, dan rasa bersalah digantikan oleh statistik data.

🧠 Ruang Tanpa Logika Bertanya:

    Kenapa jabatan membuat orang lupa bahwa mereka dulu juga rakyat?
    Kenapa empati tak pernah masuk dalam rapat anggaran?
    Kenapa pejabat lebih takut kehilangan kursi daripada kehilangan kepercayaan?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan sekadar retorika. Ia lahir dari luka kolektif yang tak kunjung sembuh. Ruang tanpa logika bukan tempat untuk mencari jawaban, tapi untuk mengingatkan bahwa absurditas ini nyata. Bahwa di balik setiap keputusan yang tak berpihak, ada wajah-wajah yang tak pernah masuk dalam slide presentasi. Dan bahwa logika kekuasaan sering kali tak kompatibel dengan logika kemanusiaan.

🔥 Penutup: Kursi Tak Akan Membela

Kursi empuk tak akan membela saat rakyat marah.
Ia hanya benda.
Yang bisa membela adalah hati yang masih berdenyut,
dan suara yang berani bicara meski tak punya mikrofon.

Di akhir hari, jabatan akan berakhir, kursi akan kosong, dan sejarah akan menulis siapa yang benar-benar hadir untuk rakyat. Maka biarlah tulisan ini menjadi arsip kecil dari suara yang tak ingin dibungkam. Karena di ruang absurd ini, kita percaya: kata-kata bisa menjadi perlawanan, dan empati adalah bentuk tertinggi dari keberanian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ruang Tanpa Logika : "Bayangan Tanpa Sumber"

Jejak Diri : "Jangan Burnout! 3 Langkah Simpel untuk Bangun Rutinitas Pagi yang Produktif."

Jejak Farmasi : "ADME" Ngulik Obat Skuy!