Ruang Tanpa Logika : Ibu Pertiwi Menangis? Kapan Beliau Akan Tersenyum?
Ibu Pertiwi Menangis? Kapan Beliau Akan Tersenyum?
Rupanya, Ibu Pertiwi kita sedang kehilangan air mata. Bukan karena lagu galau atau drama sinetron yang patah hati, tapi karena tambang yang ugal-ugalan di mana-mana. Hutan dibabat, sungai dijadikan kubangan lumpur, dan tanah tergali tanpa henti seolah berkata, "Ini rumah baru buat truk-truk besar."
Mari kita bayangkan Ibu Pertiwi yang dulu hijau dan ramah dengan senyum yang teduh, kini harus menahan tangis setiap kali alat berat meraung-raung di perutnya. Tambang nikel, batubara, dan pasir laut: mereka adalah 'pesta pora' para penambang tanpa batas yang bikin Ibu Pertiwi bisa mencekik diri sendiri.
"Aduh Nak, kok kamu begitu? Aku kasih tanah, laut, dan udara bersih, tapi kamu balas dengan gundukan sampah dan perut bolong?" barangkali suara Ibu Pertiwi bisa didengar kalau dia punya mikrofon.
Kalau Ibu Pertiwi bisa bicara, mungkin beliau bakal bertanya: "Kapan ya aku bisa kembali tersenyum? Kapan hutan-hutanku bisa bernapas lega? Kapan air sungai yang dulu bening tidak berubah jadi kolam lumpur yang bikin ikan ngambek?"
Sayangnya, jawaban itu belum kelihatan di jalanan yang berdebu ini. Pemerintah dan perusahaan tambang saling lempar janji, sementara Bumi kita terus menangis dalam diam. Mungkin Ibu Pertiwi butuh liburan dari segalanya, tapi mana ada taman safari buat ibu bumi?
Dari sini kita belajar bahwa menjaga lingkungan bukan cuma soal slogan atau hashtag di media sosial, tapi tindakan nyata. Jangan sampai kita menunggu Ibu Pertiwi nangis lebih deras baru sadar untuk peduli.
Kalau bukan hari ini, kapan? Kalau bukan kita, siapa lagi? Mari berhenti jadi tamu tak diundang yang merusak rumah sendiri. Semoga suatu hari nanti, Ibu Pertiwi benar-benar bisa tersenyum lagi dengan tawa yang lepas dan penuh harapan.
Oleh Pejuang-Mimpi dan Kak Cahaya
#RuangTanpaLogika
Komentar
Posting Komentar