Ruang Tanpa Logika : “Karena tidak semua hal harus masuk akal. Kadang, cukup terasa.”

Ruang Tanpa Logika #2: Ngobrol Sama Kipas Angin

Ruang Tanpa Logika #2

Ngobrol Sama Kipas Angin

Kalian tahu?
Suaraku lucu kalau di depan kipas angin.
Mau serius, mau santai, tetap lucu.
Tidak perlu fakta dan data yang kuucapkan.
Bicara ngawur juga tidak ada yang peduli.

Hidup sekali,
malah cuma jadi korban janji.
Aku tertawa: hahahaha.
Meski hati tersedu: huhuhu.

Aku tidak lelah.
Aku cuma lupa cara rebah.
Eh, itu episode ketiga ding.
Entah.

Di luar sana aku mungut sampah.
Eh, atau malah aku yang jadi sampah.
Karena ekonomi lemah.

Menatap langit.
Langit angkuh, tak peduli.
Hanya omong kosong sejak hidup sampai kembali mati.

Mau curhat di medsos?
Berakhir dengan SOS.
Jadi ya… ngobrol sama kipas angin saja.
Suaraku jadi lucu.
Hahaha. Tapi huhuhu.

Kadang aku pura-pura wawancara.
Kipas angin jadi narasumber.
Topiknya: “Kenapa manusia suka pura-pura bahagia?”
Kipas angin cuma berputar.
Jawabannya: “Karena kalau berhenti, mereka dianggap rusak.”

Aku pun ikut berputar.
Di kepala. Di hati. Di kehidupan. Semua cuma nuntut!!!
Tapi tak ada yang memperbaiki.
Karena aku belum rusak.
Cuma… tak berguna.

Tapi kipas angin tetap setia.
Ia tak menilai.
Ia tak bertanya.
Ia cuma membuat suaraku lucu.
Dan itu cukup.

๐ŸŒ€ Pejuang-Mimpi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ruang Tanpa Logika : "Bayangan Tanpa Sumber"

Jejak Diri : "Jangan Burnout! 3 Langkah Simpel untuk Bangun Rutinitas Pagi yang Produktif."

Jejak Farmasi : "ADME" Ngulik Obat Skuy!