Ruang Tanpa Logika : “Karena tidak semua hal harus masuk akal. Kadang, cukup terasa.”
Ruang Tanpa Logika #1
Krupuk dan Perang Nuklir
Aku cuma bisa makan dengan lauk krupuk.
Iya, pekerjaanku pahlawan tanpa tanda jasa.
Aku cuma makan krupuk.
Kalau besok perang nuklir, udah nggak perlu mikir.
Biarkan saja mengalir.
Mungkin dunia akan meledak,
dan aku masih sibuk mikir:
“Besok makan pakai apa?”
Mungkin langit akan runtuh,
dan aku masih ngunyah krupuk yang patah separuh.
Aku tidak minta dihargai.
Aku cuma ingin tidak harus berpikir saat lapar.
Tapi hidup ini seperti ujian tanpa kunci jawaban.
Dan aku?
Aku cuma murid yang duduk paling belakang,
menyalin jawaban dari semesta yang juga bingung.
Kadang aku ingin jadi krupuk.
Ringan, renyah, dan tidak punya beban eksistensial.
Tidak ditanya “apa kontribusimu?”
Tidak disuruh “berjuang demi bangsa.”
Cuma ada. Cuma dimakan.
Tanpa tuntutan.
Kalau besok perang nuklir,
biarkan saja.
Aku akan tetap di sini,
menulis absurditas sambil menunggu krupuk terakhir.
Karena di dunia yang terlalu serius,
menjadi absurd adalah bentuk perlawanan paling NYUS.
Pejuang-Mimpi
