Jejak Sains : "Menantang Waktu" Kisah Heroik NASA Menghidupkan Kembali Jantung Voyager 1
"Menantang Waktu" Kisah Heroik NASA Menghidupkan Kembali Jantung Voyager 1
Oleh Tim Penulis dan dibantu Gemini AI Plus
Di kegelapan abadi ruang antarbintang, 25,5 miliar kilometer dari rumah, sebuah legenda teknologi dari era 1970-an baru saja menolak untuk menyerah. Wahana antariksa ikonik NASA, Voyager 1, kembali menunjukkan ketangguhannya. Para insinyur di Bumi telah berhasil melakukan perbaikan mustahil yaitu menghidupkan kembali mesin pendorong (thruster) utama wahana tersebut yang telah mati selama lebih dari dua dekade. Ini bukan sekadar perbaikan biasa, ini adalah pertaruhan berisiko tinggi untuk menyelamatkan misi yang telah berjalan selama 47 tahun.
Pesan dalam Botol dan "Grand Tour" Kosmik
Untuk memahami betapa pentingnya perbaikan ini, kita harus kembali ke sejarah peluncurannya. Voyager 1 diluncurkan pada September 1977, beberapa minggu setelah kembarannya, Voyager 2. Misi ini dirancang untuk memanfaatkan kesejajaran planet langka yang disebut "Grand Tour", sebuah konfigurasi yang hanya terjadi setiap 176 tahun sekali. Kesejajaran ini memungkinkan wahana menggunakan "ketapel gravitasi" dari satu planet raksasa ke planet berikutnya, menjadikan perjalanan epik ke Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus mungkin dilakukan.
Namun, Voyager 1 dan 2 tidak hanya pergi sebagai mesin sains, mereka juga pergi sebagai pembawa pesan. Keduanya membawa "Golden Record", sebuah piringan tembaga berlapis emas berukuran 12 inci. Piringan ini adalah kapsul waktu yang dikurasi oleh komite pimpinan astronom legendaris Carl Sagan. Isinya adalah suara dan gambar yang dipilih untuk menggambarkan keragaman kehidupan dan budaya di Bumi, termasuk sapaan dalam 55 bahasa, berbagai jenis musik (dari Bach hingga Chuck Berry), dan suara alam.
Masalah Ganda di Ujung Tata Surya
Lebih dari 47 tahun kemudian, pembawa pesan itu kini menghadapi tantangan teknis yang mengancam misinya. Untuk tetap "hidup", Voyager bergantung pada dua hal krusial yaitu kemampuan mengarahkan antena utamanya ke Bumi untuk mengirim data, dan kemampuan mengorientasikan diri menggunakan bintang pemandu. Keduanya dikendalikan oleh serangkaian mesin pendorong. Masalah dimulai pada tahun 2004, ketika pendorong utama yang mengendalikan "putaran" (roll) wahana berhenti bekerja setelah dua pemanas internalnya mati. Saat itu, tim misi tidak terlalu khawatir. Mereka beralih ke pendorong cadangan yang berfungsi sangat baik. "Sejujurnya, mereka mungkin tidak mengira bahwa Voyager akan terus berjalan selama 20 tahun lagi," kata Kareem Badaruddin, manajer misi Voyager di Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA di Pasadena, California.
Namun, setelah 20 tahun tambahan, pendorong cadangan itu pun mulai menunjukkan usianya. Para insinyur khawatir penumpukan residu propelan akan segera menyumbat pendorong cadangan tersebut. Jika ini terjadi, Voyager 1 akan kehilangan kemampuan orientasi, dan misi bersejarah ini bisa terancam berakhir.
Pertaruhan Berisiko Tinggi
Dengan memburuknya kondisi pendorong cadangan, tim NASA tidak punya pilihan selain mencoba sesuatu yang radikal yakni dengan menghidupkan kembali pendorong utama yang sudah mati sejak 2004. Mereka kembali meninjau data lama dan menemukan sebuah kemungkinan. Tim berteori bahwa kerusakan pada tahun 2004 mungkin bukan karena pemanasnya rusak total, melainkan ada gangguan pada sirkuit yang "membalik saklar ke posisi yang salah". Mereka berteori jika mereka bisa mengirim perintah untuk membalik saklar itu kembali, pemanas mungkin akan hidup, dan pendorong utama akan berfungsi. Ini adalah perintah yang dikirim melintasi 25,5 miliar kilometer. Butuh waktu puluhan jam hanya untuk sinyal itu sampai dan kembali. Hasilnya sukses. Perintah itu berhasil menghidupkan kembali pemanas dan, pada gilirannya, pendorong utama yang telah lama tertidur.
Warisan yang Terus Melaju
Keberhasilan ini adalah bukti ketangguhan desain Voyager. Awalnya, misi mereka dirancang hanya untuk empat tahun guna mempelajari Jupiter dan Saturnus. Kini, 47 tahun kemudian, keduanya adalah satu-satunya objek buatan manusia yang menjelajahi ruang antarbintang. Keduanya ditenagai oleh panas dari peluruhan plutonium, yang diubah menjadi listrik. Daya ini terus menurun sekitar 4 watt setiap tahunnya. Untuk menghemat daya, tim misi bahkan telah mematikan berbagai sistem yang dianggap tidak esensial, termasuk pemanas untuk instrumen ilmiah. Ajaibnya, meskipun suhu anjlok jauh di bawah batas yang pernah diuji, instrumen-instrumen itu tetap berfungsi dengan baik. Perbaikan pendorong ini memastikan Voyager 1 dapat terus mengirimkan datanya kembali ke Bumi, setidaknya hingga tahun depan, sembari melanjutkan perjalanannya yang abadi menembus kosmos. Lanjutkan berpetualang di ruang angkasa, Voyager!
📚 Daftar Pustaka
- CNN Indonesia. (2025, 18 Mei). Sempat Rusak, Wahana Sejauh 25,5 Miliar Km dari Bumi Kembali Menyala. https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20250518142430-199-1230455/sempat-rusak-wahana-sejauh-255-miliar-km-dari-bumi-kembali-menyala
- NASA. (2025). Voyager: The Grand Tour Mission. Diakses 6 November 2025, dari nasa.gov.
- Jet Propulsion Laboratory (JPL). (2025). Voyager: The Golden Record. Diakses 6 November 2025, dari jpl.nasa.gov.

Komentar
Posting Komentar