Jejak Prosa : Klandestin Rindu di Spion Pagi
Klandestin Rindu di Spion Pagi
Oleh: Riza AA
Kicau burung menyalip riuh notifikasi, seolah semesta lebih percaya pada nyanyian alam ketimbang algoritma yang tak mengenal rindu. Aku terbangun, menyentuh bingkai fotomu yang diam di meja, padahal tak perlu. Kau telah menetap, diam-diam, di lorong-lorong pikiranku yang klandestin. Gas kutarik, jalanan jadi panggung bagi tawa kecilku dan hatiku sendiri. Ada dialog manja antara aku dan nurani, seperti dua aktor yang pura-pura tak tahu bahwa wajahmu memantul di spion motorku. Aku lupa, kau tak pernah benar-benar pergi dari hatiku. Biarlah aku merindu dulu, sebelum jarak menyerah pada waktu. Cinta dan rindu terbit bersamaan, menjadi matahari yang tak pernah tenggelam di hariku. Tak apa, karena memang wajar bagi lelaki sepertiku yang hidupnya bergantung pada asa, yang kau tanam diam-diam di sela-sela napas dan doa.

Komentar
Posting Komentar