Langsung ke konten utama

Jejak Filsafat : Deontologi vs Utilitarianisme, So, Lo Tim Mana?

Jejak Filsafat : Deontologi vs Utilitarianisme, So, Lo Tim Mana?

Lo Tim Aturan Saklek atau Tim Hasil Akhir? Kenalan Sama Deontologi vs. Utilitarianisme, Biar Gak Salah Gawe

Oleh Pejuang-Mimpi dan Alder Noe

Pernah gak sih lo di posisi serba salah? Misalnya, bestie lo baru potong rambut dan modelnya, hmm, literally aneh banget. Terus dia nanya dengan mata berbinar, "Gimana rambut gue? Keren, kan?"
Di kepala lo auto ada dua suara:
Suara 1: "Jujur aja! Bohong itu dosa, titik."
Suara 2: "Bohong dikit gapapa lah, daripada dia nangis kejer dan mood-nya ancur seharian."

Nah, congrats! Lo baru aja mengalami pertarungan klasik antara dua "mazhab" etika yang ngatur cara kita ambil keputusan, Deontologi dan Utilitarianisme. Biar lo gak bingung lagi, yuk kita bedah satu-satu!

DEONTOLOGI: Si Paling Taat Aturan, No Debat!

Bayangin Deontologi itu kayak temen lo yang hidupnya lurus banget ngikutin rulebook. Baginya, yang namanya aturan ya aturan, diciptakan untuk ditaati, kapan pun, di mana pun, tanpa terkecuali.

  • Vibes-nya, black and white. Sesuatu itu kalau gak bener, ya salah. Gak ada area abu-abu.
  • Fokusnya, pada TINDAKAN itu sendiri. Mau hasilnya bikin dunia damai atau malah kiamat, gak penting. Yang penting, tindakannya sesuai sama prinsip dan kewajiban moral.
  • Suhu-nya, Immanuel Kant. Kata si bapak filsuf ini, ada aturan universal yang gak boleh dilanggar. Contohnya? "Jangan berbohong," "Jangan mencuri."
  • POV Deontologis

    Balik ke kasus rambut bestie tadi. Seorang deontologis sejati bakal bilang, "Bro, jujur aja, modelnya gak cocok sama lo." Kenapa? Karena kewajiban moralnya adalah berkata jujur. Berbohong itu salah, gak peduli tujuannya baik. Sakit hati sesaat gak sebanding sama melanggar prinsip. Keren sih, tapi siap-siap dijauhin temen.

    UTILITARIANISME: Yang Penting Endingnya Happy Buat Banyak Orang.

    Kalau Deontologi itu si kaku, Utilitarianisme itu si fleksibel yang pinter lihat situasi. Bagi kaum ini, gak ada aturan yang 100% mutlak. Semua tergantung... drumroll... HASIL AKHIRNYA!

  • Vibes-nya, pragmatis dan penuh perhitungan. Mikirin pro and cons.
  • Fokusnya: Pada KONSEKUENSI. Tindakan dianggap bener kalau bisa bikin kebahagiaan maksimal buat orang paling banyak. The greatest good for the greatest number, gitu katanya.
  • Suhu-nya: Jeremy Bentham & John Stuart Mill. Mereka ini yang suka "ngalkulasi" kebahagiaan.
  • POV Utilitarian

    Di kasus rambut yang sama, si utilitarian bakal pasang senyum paling manis dan bilang, "Gila, fresh look banget! Cocok kok!" Kenapa? Kalkulasinya simpel, yaitu

  • Kalau jujur: 1 orang (lo) merasa lega, 1 orang (bestie) sedih. Hasil = minus.
  • Kalau bohong: 1 orang (lo) bohong dikit, 1 orang (bestie) super happy. Hasil = plus.
  • Sebuah kebohongan kecil demi kebahagiaan yang lebih besar? Why not?

    Face-Off Paling Epik: Dilema Kereta (The Trolley Problem)

    Ini dilema yang suka muncul di FYP TikTok atau film. Bayangin:

    Ada kereta lepas kendali bakal nabrak 5 orang di rel. Lo ada di deket tuas yang bisa mindahin kereta ke rel lain. MASALAHNYA, di rel lain itu ada 1 orang. Apa yang lo lakuin?

    Tim Deontologi: Gak bakal narik tuas. Kenapa? Karena kalau narik tuas, lo secara AKTIF bikin 1 orang mati. Tindakan membunuh (meski gak langsung) itu salah menurut aturan universal. Nasib 5 orang tadi? Ya itu tragedi, tapi bukan lo penyebabnya. Tangan lo tetap "bersih".

    Tim Utilitarianisme: Auto tarik tuas! Logikanya simpel banget, korban 1 orang jelas lebih baik daripada korban 5 orang. Mengorbankan satu nyawa untuk menyelamatkan lima nyawa akan menciptakan hasil akhir yang lebih baik dan penderitaan yang lebih sedikit secara keseluruhan.

    Gimana, pusing kan? 😂

    TL;DR (Too Long; Didn't Read)

    DEONTOLOGI (Tim Aturan)

  • Fokus ke aturan & kewajiban.
  • Tindakan itu benar atau salah dari sananya.
  • Hasil akhir gak ngaruh. "Jangan bohong ya jangan bohong."
  • UTILITARIANISME (Tim Hasil)

  • Fokus ke konsekuensi & hasil akhir.
  • Tindakan benar kalau bikin banyak orang happy.
  • Fleksibel, "bohong dikit demi kebaikan, gas!"
  • So, Lo Tim Mana?

    Kenyataannya, kita semua gak 100% ada di satu tim. Kadang kita mikir kayak deontologis yang idealis, tapi di situasi lain kita jadi utilitarian yang pragmatis. Psikologi bilang, ini sering jadi pertarungan antara respons emosional/intuitif (Deontologi) versus penalaran rasional/kalkulatif (Utilitarianisme) di otak kita. Sekarang coba deh perhatiin caramu ambil keputusan sehari-hari. Pas lagi ujian terus ada kesempatan nyontek dikit, atau pas nemu dompet di jalan. Kamu lebih sering pakai "kacamata" yang mana nih?

    Komentar

    Postingan populer dari blog ini

    Ruang Tanpa Logika : "Bayangan Tanpa Sumber"

    Jejak Diri : "Jangan Burnout! 3 Langkah Simpel untuk Bangun Rutinitas Pagi yang Produktif."

    Jejak Farmasi : "ADME" Ngulik Obat Skuy!