Jejak Budaya : "Green is the New Cool" Gaya Hidup Ramah Lingkungan yang Lagi Naik Daun
"Green is the New Cool" Gaya Hidup Ramah Lingkungan yang Lagi Naik Daun
Oleh Tim Penulis
Beberapa tahun terakhir, gaya hidup ramah lingkungan alias eco-lifestyle makin naik daun. Kalau dulu orang mikir “go green” itu cuma buat aktivis lingkungan, sekarang thrift shopping, bawa tumbler sendiri, atau pakai tote bag udah jadi bagian dari gaya hidup kekinian.Generasi muda, terutama Gen Z, mulai sadar kalau bumi bukan cuma tempat tinggal, tapi juga tanggung jawab. Menurut laporan Deloitte Global 2023 Gen Z and Millennial Survey, lebih dari 75% anak muda di seluruh dunia merasa punya peran penting dalam mengatasi krisis iklim.
Thrift Culture: Dari Hemat Jadi Statement
Thrift culture alias budaya belanja barang bekas bukan cuma soal hemat, tapi juga bentuk perlawanan terhadap fast fashion yang nyumbang limbah tekstil terbesar kedua di dunia.Menurut penelitian dari Niinimรคki et al. (2020) di Nature Reviews Earth & Environment, industri fashion global menghasilkan sekitar 92 juta ton limbah setiap tahun dan menyumbang 10% emisi karbon dunia. Dengan thrifting, orang bisa tampil keren tanpa nambah beban buat bumi.Selain itu, thrift juga punya nilai budaya baru: authenticity. Barang bekas punya cerita, dan itu bikin gaya seseorang lebih personal.
Zero Waste: Hidup Tanpa Sisa (Atau Setidaknya Berusaha)
Gerakan zero waste ngajak orang buat ngurangin sampah dari sumbernya. Bukan cuma daur ulang, tapi juga mikir ulang sebelum beli sesuatu.Menurut Bea Johnson, penulis Zero Waste Home, prinsipnya simpel: Refuse, Reduce, Reuse, Recycle, Rot. Artinya, tolak yang nggak perlu, kurangi konsumsi, pakai ulang, daur ulang, dan komposkan sisa organik.Di Indonesia, komunitas seperti Zero Waste Indonesia dan Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik udah mulai ngubah cara orang belanja dan konsumsi. Dari bawa wadah sendiri ke warung sampai bikin sabun alami di rumah, semua jadi bagian dari gaya hidup baru yang lebih sadar lingkungan.
Sustainability: Bukan Sekadar Tren, Tapi Tanggung Jawab
Menurut jurnal United Nations Environment Programme (UNEP, 2022), konsep sustainability mencakup tiga pilar utama: lingkungan, sosial, dan ekonomi. Artinya, hidup berkelanjutan bukan cuma soal daur ulang, tapi juga soal keadilan sosial dan keseimbangan ekonomi.Gaya hidup berkelanjutan berarti mikir panjang—tentang dampak setiap keputusan kecil, dari makanan yang dimakan sampai pakaian yang dipakai.
Sustainability bukan cuma gaya hidup, tapi cara berpikir baru. Dari thrift store sampai dapur rumah, setiap langkah kecil bisa jadi bagian dari perubahan besar. Karena di era sekarang, being cool means being conscious.Sumber Pustaka
Komentar
Posting Komentar